Semburat jingga
Tuesday, November 15, 2005




















(left to right : Dina, me, Widya, Lili)




Abis bongkar2 file lama, nemu foto2 ini.......foto perpisahan Widya (temen serumah, temen makan, temen belanja, temen gila :p) Hari ini sengaja posting karena setelah Widya nikah, she's back! critanya mengikuti tugas suami, berbakti (halahhhhhh)
Minggu lalu sempat ngobrol, eh lebih tepatnya bertemu muka secara langsung ma Widya di rumah barunya (masih berantakan yo?). Terakhir ketemu cium pika piki 15 Oktober yang lalu pas resepsinya. Setelah itu hanya sebatas tel, sms. Masih sama seperti Widya yang dulu, walau dengan status yang berbeda kini. Seorang isteri. Mulai belajar masak (?), bebenah rumah (ga beres2 perasaan), macem2 deh. Tuker ingatan sewaktu masih serumah. Gimana kita diet tapi gagal mlulu, ato pas kita ngobrolin orang laen :p. Fiuhhhh kangen juga yak...... Biarpun sekarang ga ada Widya, tapi ada Dinaaaaaa....... temen serumah gantinya Widya. Ganti tapi bukan berarti lupa. Cuman sedikit ngrubah kebiasaan kalo pas foto, berhubung dulu sama Widya sama bongsornya, mau foto sejajar ga masalah. Tapi ama Dina mesti ganti posisi, dengan tau diri menempatkan di belakang Dina agak jauhan dikit biar ga keliatan jomplang hihihi. But one for sure!!........ Rumah kami ditempati cewek2 cantik & 'agak' besar dikitlah (seperti kami lah......ha5x)

Just want to say.............Welcome back Widya!
Posted by at 2:16 PM | | 1 comments
Friday, November 11, 2005


Lelaki paruh baya dengan segala kompleksitasnya. Kesan yang tertanam kuat di benak saya sewaktu pertama kali “bertukar tutur” dengannya. Kesan yang muncul pertama selain jaket corduroy hitam, celana jeans warna biru pudar dan sepasang sepatu kets kelabu tua. Kesan timbul karena saya cukup terkesan dengan keberadaannya. Saya merasa lelaki ini punya banyak cerita dalam dirinya.

Baru pertama kali ini saya melakukan perjalanan dengan seorang lelaki paruh baya. Saya tidak pernah menduga bahwa kali ini perjalanan saya bakal meninggalkan jejak di ingatan saya. Memang tidak semua jejak meninggalkan kesan manis, beberapa jejak bahkan datang dengan torehan luka dan episode biru. But never mind……. Semakin riuh jejak-jejak terekam, semakin riuh warna hidup saya.

Saya ingin melukiskan dirinya. Sampai detik ini saya masih mencoba mengumpulkan serpihan ingatan tentang dirinya. Mereka-reka apakah ada yang terlewat dari rekaman ingatan saya…. Untuk rekaman ingatan biar saya saja yang menyimpannya (sambil berdoa tidak kena program cuci otak seperti di acara kartun yang saya lihat).

Aneh memang, harus menunggu tiupan peluit masinis terlebih dahulu untuk memulai bercerita. Hentakan pertama saat kereta melaju perlahan begitu terasa. Pertemanan yang cukup lama dan perjumpaan sekilas tidak membuat kami bercerita banyak sebelumnya. Hanya gara-gara gegap kereta yang memekakkan gendang telinga kami lah……. Kami mulai bercanda. Ah ……. itulah babak lain dari kejutan perjalanan!

Layaknya laju kereta yang kadang tersendat memelan dan akhirnya berhenti sesaat, perjalanan kami yang mula-mula beku, kaku mulai mencair. Bahkan saya lupa dari mana memulai, yang saya ingat hanya tiba-tiba saya berada dalam pelukannya. Bersandar di bahunya. Sempat kikuk di detik pertama dan nyaman di hitungan detik kedua……hehehe begitu mudahnya. Ada saat dimana saya bercerita dan dia mendengarkan (walaupun saya tahu sebenarnya lelaki itu mulai terlelap bosan). Atau saat dirinya bercerita sementara saya sibuk memusatkan konsentrasi mendengar ceritanya (saya pendengar yang buruk ternyata)……tergelak bersama atau saat kami tersadar ternyata kami mempunyai kegemaran yang sama. Makan enak :p

Kami begitu dekat, bahkan saya bisa melihat lekuk wajahnya. Mungkin karena dia lelaki paruh baya. Dengan segudang perjalanan di belakangnya dan dengan serentetan peristiwa kehidupannya.
“Dia lelaki paruh baya yang ternyata memiliki pelukan ternyaman sepanjang 24 tahun perkenalan saya dengan lelaki” Sering terbersit jahil…… jangan-jangan pelukan ternyaman karena lengan dan bahunya yang lebar? Uhh kasihan sekali para lelaki yang dianugerahi badan kurus dengan tulang dominan.
“Dia lelaki yang akan mampu membuat semua wanita (atau hanya saya yang merasa?) merasa leleh dalam dekapannya, dan tertidur nyenyak……” Hanya saja panas pelukannya belum cukup menghangatkan hidung saya ^_^
“Dia lelaki paruh baya yang memeluk saya dan mengecup kening saya di saat terlelap walaupun akhirnya saya tahu (di lain waktu) alasannya melakukan itu semua” Seperti kanak-kanak itu yang saya tangkap dari pengakuannya. Pengakuannya sontak membuat saya terdiam, tapi kemudian saya sadari mungkin memang itu yang seharusnya. (kalau saya yang segede ini dibilang seperti bayi lucu, seberapa gede ibu saya? :D)
“Dia lelaki paruh baya yang tanpa disadarinya mengalahkan seorang teman yang menaruh hatinya di kantong saya” (teman yang mana ya? jadi inget punya banyak teman….hehehehe)
“Dia lelaki yang kemudian di akhir perjalanan mengacak-acak lembut rambut saya” (Saya masih terhenyak kala itu, trainlag? Ha50x)

Ini bukan mimpi tapi kenyataan getir yang harus saya terima. Kereta berhenti. Perjalanan kami berakhir. Tapi tak sepatutnya ada penyesalan toh ini perjalanan panjang yang penuh kesan. Senyum mengembang secercah sinar lembut menyambut saat keluar gerbong……..sinar matahari usil batin saya. Ada kehangatan menyeruak, ini lain. Kami berdiri di persimpangan merunut arah angin dengan lambaian selamat tinggal.

Suatu hari akan ada perjalanan berkesan lain. Tidak dalam waktu dekat ini. Suatu masa perjalanan dengan lelaki paruh baya atau mungkin dengan lelaki lain? Di masa lalu, saya kurang menyukai atmosfer stasiun……. suram, perpisahan sangat terasa. Tapi pagi ini dengan langkah ringan dan segudang harapan, mulai melangkahkan kaki keluar dari stasiun kereta dan berjanji diri.

Dan pagi hangat itu saya tersadar “Tuhan memberi jeda umat-Nya dengan cara yang teramat istimewa”


TULISAN DI ATAS MURNI FIKSI…........
SEKALI LAGI FIKSI ya……
JADI JANGAN MULAI ISENG2 BERTANYA!!



Posted by at 3:03 PM | | 4 comments
Made by Golda