Semburat jingga
Sunday, October 24, 2004
Saya mengingkarinya.............................
Saya khawatir pada diri saya sendiri, rasa-rasanya saya mulai jatuh cinta kepadanya, membayangkan bagaimana saat bersamanya , menghabiskan waktu berdua membicarakan apa saja bahkan tanpa menyadari kami sudah berbicara berjam-jam lamanya, tertawa bersama terkadang hanya diam membisu dan menunggu, terkadang saling bersitegang memegang ego pribadi kami .................. Saya takut ini hanya karena saya terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Terbiasa berbicara dengannya.
Dan saya merasa, saya mulai jatuh cinta. Tapi saya tidak ingin jatuh cinta, sekuat tenaga saya berusaha mengingkarinya, melawannya.
Saya mulai jatuh cinta tetapi saya tidak ingin jatuh cinta. Saya mengingkarinya tapi terkadang saya tak berdaya.
@ saling cinta berarti saling percaya
@ saling percaya berarti saling menjaga
@ tapi ada kalanya lebih baik tidak mencinta karena kita sulit untuk menjaga
Saya khawatir pada diri saya sendiri, rasa-rasanya saya mulai jatuh cinta kepadanya, membayangkan bagaimana saat bersamanya , menghabiskan waktu berdua membicarakan apa saja bahkan tanpa menyadari kami sudah berbicara berjam-jam lamanya, tertawa bersama terkadang hanya diam membisu dan menunggu, terkadang saling bersitegang memegang ego pribadi kami .................. Saya takut ini hanya karena saya terbiasa menghabiskan waktu bersamanya. Terbiasa berbicara dengannya.
Dan saya merasa, saya mulai jatuh cinta. Tapi saya tidak ingin jatuh cinta, sekuat tenaga saya berusaha mengingkarinya, melawannya.
Saya mulai jatuh cinta tetapi saya tidak ingin jatuh cinta. Saya mengingkarinya tapi terkadang saya tak berdaya.
@ saling cinta berarti saling percaya
@ saling percaya berarti saling menjaga
@ tapi ada kalanya lebih baik tidak mencinta karena kita sulit untuk menjaga
Friday, October 22, 2004
Penantian saya akan turunnya hujan terasa membosankan, mimpi saya akan musim kemarau tahun ini berakhir terasa lama. Hanya sekali hujan turun di tempat saya bekerja. Dan itupun hanya gerimis-gerimis kecil. Tetesannya seakan tidak mampu meredamkan panas pancaran sang matahari. Sekali, sebentar dan tidak berasa. Tapi saya sangat bersyukur akan kiriman luar biasa dari-Nya.
Saya suka sekali hujan, bunyi air yang mengucur dari langit seakan-akan kesatuan simphoni keindahan Sang Kuasa. Perpaduan selaras yang tidak akan bisa manusia lemah seperti kita untuk menyainginya. Bunyi hujan ditopang kilat, bunyi dentingan air saat menyentuh daun, atap rumah. Mengagumkan bukan?
Saya suka sekali hujan, mulai dari awal akan turunnya hujan hingga tetes air hujan berakhir.
Saya suka sekali hujan, saya suka bau tanah disaat hujan mengguyurnya. Wangi tanah yang khas.
Saya suka sekali hujan, hujan bagi saya berarti sejuk terkadang dingin, dan menyegarkan.
Saya suka sekali hujan, hujan membuat tidur saya nyeyak. Bergelung malas di balik selimut tanpa perlu menghidupkan kipas angin yang selalu setia menemani saya sekarang ini. Hujan menemani saya berkhayal menciptakan imajinasi luar biasa, yang indah namun terkadang liar.
Saya suka hujan………………………….
Sayang sekali hujan enggan turun. Saya kembali teringat perkataan nenek dulu sewaktu saya masih kecil, beliau berkata “ Kalau hujan turun berarti Tuhan sedang bersedih, kalau hujan turun berarti Tuhan sedang menangis “. Kalau sekarang hujan enggan turun apakah saat ini Tuhan sedang bergembira? Sedang senang? Atau bahagia? Pertanyaan saya yang konyol dan bodoh :) .
Tapi sayangnya tidak semua orang mencintai hujan seperti saya. Ada kalanya disaat hujan turun, orang bersungut-sungut, marah, jengkel. Bagi sebagian orang yang tidak menyukai hujan, hujan berarti lunturnya make-up, baju dan sepatu/sandal yang basah kuyup, air menggenang dimana-mana, cipratan air yang menjengkelkan, mobil yang terlanjur kilap, macet, terlambat janji bisnis, kencan yang terhambat (padahal menurut saya hujan romantis lho…………….), proyek fisik yang terhenti dan masih banyak lagi alasan kenapa sebagian dari kita tidak begitu menyukai hujan.
Tapi saya suka hujan dan saya sedang menantikannya. Sama seperti saya menantikan ‘kenyamanan dan keamanan’ dalam sebuah hubungan. Kapan Tuhan akan mengirimkan hujan? Hujan………...... saya menunggu!.
~~~ Maukah anda menemani saya menunggu datangnya hujan? ~~~
Thursday, October 21, 2004
Siapa bilang yang jago bohong cuma wanita? lelaki pun sama saja. Hampir semua teman-teman lelaki saya pembohong. Ada yang ngakunya ga pernah ciuman tapi ternyata ahli raba sana raba sini, ada yang sok alim taunya genit minta ampun, ada yang ngomong setia ternyata selingkuh sudah lama, ada yang nyata-nyata buaya ternyata kelakuan nglebihi dari buaya (aligator!!)
Entah kenapa mood saya langsung drop nginget itu semua. Lelaki sama saja, sampai saat ini saya belum benar-benar 'melihat' lelaki sejati. Dan sepertinya, ga bakalan ada.
So, masih butuh lelaki?
Thursday, October 14, 2004
Sekedar jatuh cinta, terlanjur jatuh cinta atau terlalu jatuh cinta?
Hari ini saya awali dengan pagi yang kurang menyenangkan. Bangun kesiangan, air di kos mati, kebingungan pilih baju (bukan karena banyak tapi saking terbatasnya pilihan baju), minyak wangi kesayangan saya jatuh dan tutupnya entah kemana larinya, ngantuk berat :(( pengen rasanya hari ini saya tidak ngantor.
Lunglai habis-habisan, kenapa ya kalau kita males atau ngantuk cenderung bawaannya sebelllllllllllllllll mlulu? Atau jangan-jangan hanya saya saja yang seperti itu :(
Semalam ada alasannya kenapa saya tidur terlampau telat. Biasanya saya tidur diatas jam 12 setiap harinya (ya tergantung keadaan) tapi semalam baru tidur jam 2 dini hari. Sudah 3 malam berturut-turut saya seperti ini, ga heran hari ini mata saya akrab banget pengen nutup. Alasannya sepele, gara-gara ditelpon seorang teman lelaki. Eit…….tunggu dulu jangan berprasangka yang iya-iya, hehehehe……..benar-benar seorang teman. Yang buat sepele lagi, teman saya (sebut saja I) menelpon saya karena hatinya sedang bahagia. Bukan sekedar bahagia saya rasa, benar-benar melambung karena terlalu bahagia. Padahal kita tahu kan, sejak SD kita belajar bahasa Indonesia bahwa kata ‘terlalu’ identik dengan ‘super’ (bukan super duper), ‘keadaan paling……………….’ (dalam hal ini bahagia).
Begini kira-kira percakapan kami malam itu :
‘Hahahaha hehehehe hahahaha hehehehe hahahaha ‘ seru I kepada saya
‘Napa ketawa-ketawa? Obat kamu habis?’
‘Ga……………………….aku cuman lagi bahagia aja……..’
‘Bahagia? Kenapa? bukannya kamu lagi di Jakarta?’
‘Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa’ (sambil ngakak-ngakak yang ga jelas gitu)
‘Ooooooooooo pasti gara-gara ketemu ma ce mu yah? Hmmm dah baikan kah? Katanya lagi bertengakar?’
‘Iya dong………….yang pasti aku bahagia, seneng banget, ga ternyata kemarin-kemarin dia (pacar I. Red) Cuma mo ngetes aku’
‘Ooo trus kenapa seneng? Abis dicium? Abis kerajinan tangan? Hehehehe sorry pren….’
‘Wek ga lah, dia dah aku anterin pulang, pokoknya bahagia!!!! Hari ini hari apa? Eh……….ini bulan purnama!!!! Hari ini mesti aku catat dalam memoriku, ini hari paling bersejarah dalam hidupku, hahahaha’
‘Selasa, yah dicatet sana….hari paling bahagia, btw napa kamu nelfon aku? Mo pamer?’
Sampai segitu aja catatan saya tentang percakapan kami, masih panjang sebenernya cuman demi alasan kesehatan (bohong banget yah? Hahahaha) tidak saya teruskan catatan percakapan kami, takut I marah :(
Bukan percakapan itu yang ingin saya bahas disini, yang ingin saya renungkan adalah kenapa I bisa sampai seperti itu. Telepon, sms, chat yang semua isi pembicaraan adalah bahagia, hehehe hahahaha itu saja yang dia bicarakan. So, saya butuh advise anda karena saya sudah buntu no idea buat nerusin tulisan saya, saking bingungnya :(
Ada apa dengan jatuh cinta sampai membuat orang seakan-akan lupa menginjak bumi (jadi inget Dunia Lain), sampai males kerja, pengen deket-deket dengan ceweknya (kalau saya males kerja karena ngantuk). Come on, its real world gitu lho……………..
Sampai berapa lama teman saya seperti ini (saya pernah bertanya dan belum dijawab sampai sekarang). Sampai berapa lama perasaan itu ada dalam dadanya? Perasaan bahagia? Berbunga-bunga? Atau kasmaran? ;;)
Saya menyadari ini mungkin karena ‘hubungan baru’ buat teman saya, istilah gaul ‘masih anget-angetnya’, nahhh kalau hubungan itu sudah menginjak tahun pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam…………………dst apa temen saya masih merasakannya? Kali ini saya berani menjawab tidak. Jawaban iya bisa saya lontarkan tapi (ada tapinya) temen saya mungkin merasakan dengan wanita yang berbeda . Sorry….
But anyway, saya jujur mengatakan kalau saya ikut berbahagia begitu tahu temen saya berbahagia (dengan caranya tentu saja, hehehe) Bahagia karena banyak hal, bahagia karena akhirnya dia bahagia, bahagia karena dia masih mengingat saya sebagai teman berbagi cerita, bahagia karena dia masih mau membagi kebahagiaan untuk saya, bahagia karena ternyata saya (minimal telinga saya) dibutuhkan orang lain walaupun hanya untuk sekedar teman bercerita.
Dan lagi pula saya tidak ingin memberikan opini saya yang agak berlebih untuk dia karena saya tidak berhak melakukannya.
Ada teman yang bertanya pada saya, ‘percayakah kamu pada keabadian? Juga cinta?’
Waktu itu saya jawab ‘ cinta…………………..ga, kalau keabadian ………..iya
(menurut teman saya yang bertanya, hanya waktu yang abadi)
Lagi-lagi dia benar, dan kali ini saya semakin membenarkannya. Karena hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan saya atas teman saya yang saat ini sedang berbahagia.
~~ Peliharalah kebahagiaan anda ~~
Hari ini saya awali dengan pagi yang kurang menyenangkan. Bangun kesiangan, air di kos mati, kebingungan pilih baju (bukan karena banyak tapi saking terbatasnya pilihan baju), minyak wangi kesayangan saya jatuh dan tutupnya entah kemana larinya, ngantuk berat :(( pengen rasanya hari ini saya tidak ngantor.
Lunglai habis-habisan, kenapa ya kalau kita males atau ngantuk cenderung bawaannya sebelllllllllllllllll mlulu? Atau jangan-jangan hanya saya saja yang seperti itu :(
Semalam ada alasannya kenapa saya tidur terlampau telat. Biasanya saya tidur diatas jam 12 setiap harinya (ya tergantung keadaan) tapi semalam baru tidur jam 2 dini hari. Sudah 3 malam berturut-turut saya seperti ini, ga heran hari ini mata saya akrab banget pengen nutup. Alasannya sepele, gara-gara ditelpon seorang teman lelaki. Eit…….tunggu dulu jangan berprasangka yang iya-iya, hehehehe……..benar-benar seorang teman. Yang buat sepele lagi, teman saya (sebut saja I) menelpon saya karena hatinya sedang bahagia. Bukan sekedar bahagia saya rasa, benar-benar melambung karena terlalu bahagia. Padahal kita tahu kan, sejak SD kita belajar bahasa Indonesia bahwa kata ‘terlalu’ identik dengan ‘super’ (bukan super duper), ‘keadaan paling……………….’ (dalam hal ini bahagia).
Begini kira-kira percakapan kami malam itu :
‘Hahahaha hehehehe hahahaha hehehehe hahahaha ‘ seru I kepada saya
‘Napa ketawa-ketawa? Obat kamu habis?’
‘Ga……………………….aku cuman lagi bahagia aja……..’
‘Bahagia? Kenapa? bukannya kamu lagi di Jakarta?’
‘Iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa’ (sambil ngakak-ngakak yang ga jelas gitu)
‘Ooooooooooo pasti gara-gara ketemu ma ce mu yah? Hmmm dah baikan kah? Katanya lagi bertengakar?’
‘Iya dong………….yang pasti aku bahagia, seneng banget, ga ternyata kemarin-kemarin dia (pacar I. Red) Cuma mo ngetes aku’
‘Ooo trus kenapa seneng? Abis dicium? Abis kerajinan tangan? Hehehehe sorry pren….’
‘Wek ga lah, dia dah aku anterin pulang, pokoknya bahagia!!!! Hari ini hari apa? Eh……….ini bulan purnama!!!! Hari ini mesti aku catat dalam memoriku, ini hari paling bersejarah dalam hidupku, hahahaha’
‘Selasa, yah dicatet sana….hari paling bahagia, btw napa kamu nelfon aku? Mo pamer?’
Sampai segitu aja catatan saya tentang percakapan kami, masih panjang sebenernya cuman demi alasan kesehatan (bohong banget yah? Hahahaha) tidak saya teruskan catatan percakapan kami, takut I marah :(
Bukan percakapan itu yang ingin saya bahas disini, yang ingin saya renungkan adalah kenapa I bisa sampai seperti itu. Telepon, sms, chat yang semua isi pembicaraan adalah bahagia, hehehe hahahaha itu saja yang dia bicarakan. So, saya butuh advise anda karena saya sudah buntu no idea buat nerusin tulisan saya, saking bingungnya :(
Ada apa dengan jatuh cinta sampai membuat orang seakan-akan lupa menginjak bumi (jadi inget Dunia Lain), sampai males kerja, pengen deket-deket dengan ceweknya (kalau saya males kerja karena ngantuk). Come on, its real world gitu lho……………..
Sampai berapa lama teman saya seperti ini (saya pernah bertanya dan belum dijawab sampai sekarang). Sampai berapa lama perasaan itu ada dalam dadanya? Perasaan bahagia? Berbunga-bunga? Atau kasmaran? ;;)
Saya menyadari ini mungkin karena ‘hubungan baru’ buat teman saya, istilah gaul ‘masih anget-angetnya’, nahhh kalau hubungan itu sudah menginjak tahun pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam…………………dst apa temen saya masih merasakannya? Kali ini saya berani menjawab tidak. Jawaban iya bisa saya lontarkan tapi (ada tapinya) temen saya mungkin merasakan dengan wanita yang berbeda . Sorry….
But anyway, saya jujur mengatakan kalau saya ikut berbahagia begitu tahu temen saya berbahagia (dengan caranya tentu saja, hehehe) Bahagia karena banyak hal, bahagia karena akhirnya dia bahagia, bahagia karena dia masih mengingat saya sebagai teman berbagi cerita, bahagia karena dia masih mau membagi kebahagiaan untuk saya, bahagia karena ternyata saya (minimal telinga saya) dibutuhkan orang lain walaupun hanya untuk sekedar teman bercerita.
Dan lagi pula saya tidak ingin memberikan opini saya yang agak berlebih untuk dia karena saya tidak berhak melakukannya.
Ada teman yang bertanya pada saya, ‘percayakah kamu pada keabadian? Juga cinta?’
Waktu itu saya jawab ‘ cinta…………………..ga, kalau keabadian ………..iya
(menurut teman saya yang bertanya, hanya waktu yang abadi)
Lagi-lagi dia benar, dan kali ini saya semakin membenarkannya. Karena hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan saya atas teman saya yang saat ini sedang berbahagia.
~~ Peliharalah kebahagiaan anda ~~
Wednesday, October 13, 2004
Ayamlagiayamlagiayamlagiayamlagiayamlagiayamlagi
Judul diatas terlihat ironis ya?
Fiuh……………. Memang :( Semenjak ibu yang biasa masakin saya makan siang keluar, praktis hampir tiap hari saya membeli makan siang di warung. Dan biasanya karena alas an terlalu rajin bekerja sehingga saya tidak sempat keluar kantor :p (bohong bener yah?), saya nitip uang ke driver kantor buat beliin makan siang. Banyak sekali kejadian yang menarik dan menggelikan selama hampir 4 bulan saya nitip makan siang. Kalau diingat-ingat tetep aja lucu, dan sampai hari ini pun masih lucu.
Kejadian Menggelikan :
Entah sengaja atau tidak, entah suatu kebetulan atau tidak untuk mempermudah driver kantor, saya biasa nitip uang plus pesanan. Suatu hari saya pesan ‘tolong beliin ayam goreng ya’………….. P. Yono (driver kantor saya yang sangat teramat luar biasa cueknya) mengangguk………..…(salah tidak kalau saya mengartikan anggukannya sebagai tanda ‘OK Dehhhh’?) Pas jam 12 teng, langsung deh tanpa banyak basa-basi saya cabut dari ‘kursi panas’ menuju dapur. Liat kotak putih……hmmmmm itu pasti punya saya………(saat itu saya melihat ada P. Yono di dapur, sedang mengisi botol minumnya) …….dengan semangat ’45 trend ‘2004 langsung deh kotak nya saya buka……………. Oalah!!!!! Isinya koq ayam bumbu apa yang agak-agak ga jelas gitu…….. Entah kenapa semangat saya menguap entah kemana, saya tanya P. Yono ‘koq ga ayam goreng pak? ga ada ya? abis?’ dia dengan santainya sambil tetap meneruskan mengisi air dari dispenser menjawab ‘ ono sih…………’ terus langsung saya sambar pernyataannya ‘terus kenapa ga beliin ayam goreng aja?’ eeeeeeeehhhhhhhhhhhhhh dia bales jawab dengan tangkasnya ‘ayamnya bosen digoreng terus buat kowe (penulis red.), saake (kasihan) ayamnya kan juga pengen didengar omongannya, si ayam pengen dibumbu yang laen!!!’ Hahhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!
Suatu siang selang beberapa hari kemudian, setelah kejadian yang agak mengesalkan namun menyedihkan (hehehe sama aja ya?) saya kembali tanpa jera nitip uang plus pesenan ke P. Yono lewat Office Boy (Mas Arif kami memanggilnya). ‘Mas Arif tolong sampaikan ke P. Yono, tolong (ampe 2 kali bilang tolong biar mantap) beliin maem saya pake 2 lauk yang berbeda (biasanya P. Yono membelikan saya 2 potong ayam goreng dan biasanya saya merasa menyesal sehabis ludes memakannya. Mau tahu alasannya? Diet ku gagal maning……………gagal maning!!!!!). ‘Iya Mba……………’ jawab Mas Arif.
Seperti biasa, mendekati jam 12 konsentrasi tambah buyar (sebenernya sejak mulai jam 8 konsentrasi sudah buyar, hehehehe). Lirik jam terus. Mulai dari jam di pojok kanan bawah monitor, ampe jam dinding. Semuanya dilihat (mana jarum jam yang lebih dulu menunjuk angka 12). Cihuyyyyyyyyyy penantian saya tidak sia-sia, persis jam 12!!! Ok deh it’s time for makan…….makan…….makan…………makan…………… Kali ini saya ga pergi ke dapur, karena sengaja Mas Arif naruh makan siang saya di meeting room yang ber AC (sekali-sekali boleh dong serasa makan di restoran ber AC). Sudah tak sabar lagi euyyyy, satu……dua……tiga……. Yup lapis pertama ayam goreng, wuih enak nih hehehehe………..lapis kedua apaan yah? (inget kalau saya pesen 2 lauk yang berbeda kan?) satu……dua……tiga……. Lho koq?………….(coba tebak!!! Ayam opor!!!!!) hiks….hiks….hiks……. Mama! P. Yono beliin 2 lauk yang berbeda tapi ayam semua, satu ayam goreng satu lagi ayam oporrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. Apa bedanya coba? Beda di bumbu doang!
BeTe abisssssssssssss :((
Based from my previous experience, saya bertekad untuk memberi instruksi pesanan sejelas-jelasnya kalau perlu saya sebutin semua apa yang saya mau makan. Saya sudah memutuskan, hari ini saya kepengin sekali makan telur dadar. Gara-gara semalem, temen kos saya masak mie goreng plus telur dadar, koq keliatannya enak yah. Akhirnya kebawa ngimpi deh :) Alright, dengan full tekad baja saya mau makan telur dadar!!! Hmmmmm…………….P. Yono masuk ke kantor sambil bawa tentengan tas plastik hitam, hehehehe itu pasti telur dadar saya, seneng rasanya membayangkan nanti saya bisa makan telur dadar. Ups, udah jam 12, masa telur dadar mau dianggurin aja? Ga mungkin kannnnnnnnnnnnn…………………Seperti sebelumnya, makan di meeting room sendirian, koq ga ada tanda-tanda telur dadar yah di dalam kotak, koq adanya ayam lagi……..weleh jangan-jangan ketuker lagi ama makan siang Philip (bule sekantor yang lidahnya internasional banget!!). Sebelum terlambat, balik lagi saya ke dapur. ‘Mas Arif, maem saya yang mana? Salah ya?’ Mas Arif bilang ‘ga koq mba……itu bener punya mba….’ . ‘masa sih?’ pikir saya. Rasa penasaran saya masih tetep tinggi (ini semua gara-gara efek telur dadar idaman) tengok kanan kiri, saya intip kotak makan Philip ‘eh, bener itu punya Phil’ seru saya. ‘Tuh kan…………..mba ngeyel sih!!’ seloroh Mas Arif. Yeah, apa mau dikata, hari ini ayam lagi makan siang saya.
Sampai waktunya pulang kerja, setelah berkemas sana sini, sok sibuk membereskan meja yang memang sengaja diberantakin. P. Yono sudah menanti di depan pintu (ceileeeeeee suit…….suit………) ‘saya balik Mas Arif!!!’ teriak saya . Di dalam mobil, sambil leyeh-leyeh (istilah orang Jawa untuk bilang nyantai) dengerin stasiun radio lokal, iseng-iseng saya ngomong ‘Pak, saya tadi siang nitip tolong beliin telur dadar ya? koq dapetnya ayam goreng ya……salah kotak kali ye……’ P. Yono bilang ‘ga, ga ada telur dadar adanya telur ceplok makanya ga saya beliin!’ oooooooo gitu tho alasannya, masuk akal memang. Tapi yang jadi pertanyaan penasaran saya ‘Pak, kenapa tadi ga pilih telur ceplok aja? Kan sama-sama telur tuh! Kenapa malah pilih ayam goreng?’ Edan, diluar dugaan P. Yono bilang sambil ngrokok ‘Lah, kamu tuh piye tho! seharusnya ngerasa seneng & beruntung, saya beliin kamu ibunya telur, kan lebih sip dibanding makan anaknya!!!’
Sumpah, saya bener-bener ga nyangka jawabannya……………………………………….. HAHAHAHAHAHA !!!!!!!!!!!!! Sebenernya duluan mana ya telur ama ayam? HAHAHAHAHAHA !!!!!!!!!!!!!
Di balik kejadian konyol itu semua, saya bener-bener ga menyangka kalau saya dikelilingi orang-orang hebat dan baik di kantor saya. Baru-baru saja saya tahu alasannya kenapa P. Yono selalu membelikan saya ayam goreng buat makan siang saya. Dulu P. Yono pernah bertanya apa saja yang saya suka untuk makan siang saya. Saya kembali teringat waktu itu saya menjawab ‘apa saja asal bukan kerang, tiram, sawi putih, sayur rebung, kepiting (ga mungkin kan saya makan kepiting yang merepotkan itu di kantor tapi selepas pulang kerja saya suka kepiting), masakan yang terlampau manis, pete, jengkol, bebek, lele, daging kambing, tahu goreng yang ga ada rasanya, dan masih banyak lagi.
Dan hebatnya, P. Yono bisa mengingat itu semua padahal saya sendiri sampai lupa saya ga suka makan apa aja. Bahkan keluarga dan orang-orang terdekat saya pun ga bakalan ingat itu semua.
Oh my God, begitu pentingnya kemauan saya sampai P. Yono mengingatnya.
Matur nuwun Pak!!!
Note : apa seharusnya judul yang aku buat tentang P. Yono?
--- Ayo, kerja lagi ---
Judul diatas terlihat ironis ya?
Fiuh……………. Memang :( Semenjak ibu yang biasa masakin saya makan siang keluar, praktis hampir tiap hari saya membeli makan siang di warung. Dan biasanya karena alas an terlalu rajin bekerja sehingga saya tidak sempat keluar kantor :p (bohong bener yah?), saya nitip uang ke driver kantor buat beliin makan siang. Banyak sekali kejadian yang menarik dan menggelikan selama hampir 4 bulan saya nitip makan siang. Kalau diingat-ingat tetep aja lucu, dan sampai hari ini pun masih lucu.
Kejadian Menggelikan :
Entah sengaja atau tidak, entah suatu kebetulan atau tidak untuk mempermudah driver kantor, saya biasa nitip uang plus pesanan. Suatu hari saya pesan ‘tolong beliin ayam goreng ya’………….. P. Yono (driver kantor saya yang sangat teramat luar biasa cueknya) mengangguk………..…(salah tidak kalau saya mengartikan anggukannya sebagai tanda ‘OK Dehhhh’?) Pas jam 12 teng, langsung deh tanpa banyak basa-basi saya cabut dari ‘kursi panas’ menuju dapur. Liat kotak putih……hmmmmm itu pasti punya saya………(saat itu saya melihat ada P. Yono di dapur, sedang mengisi botol minumnya) …….dengan semangat ’45 trend ‘2004 langsung deh kotak nya saya buka……………. Oalah!!!!! Isinya koq ayam bumbu apa yang agak-agak ga jelas gitu…….. Entah kenapa semangat saya menguap entah kemana, saya tanya P. Yono ‘koq ga ayam goreng pak? ga ada ya? abis?’ dia dengan santainya sambil tetap meneruskan mengisi air dari dispenser menjawab ‘ ono sih…………’ terus langsung saya sambar pernyataannya ‘terus kenapa ga beliin ayam goreng aja?’ eeeeeeeehhhhhhhhhhhhhh dia bales jawab dengan tangkasnya ‘ayamnya bosen digoreng terus buat kowe (penulis red.), saake (kasihan) ayamnya kan juga pengen didengar omongannya, si ayam pengen dibumbu yang laen!!!’ Hahhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!
Suatu siang selang beberapa hari kemudian, setelah kejadian yang agak mengesalkan namun menyedihkan (hehehe sama aja ya?) saya kembali tanpa jera nitip uang plus pesenan ke P. Yono lewat Office Boy (Mas Arif kami memanggilnya). ‘Mas Arif tolong sampaikan ke P. Yono, tolong (ampe 2 kali bilang tolong biar mantap) beliin maem saya pake 2 lauk yang berbeda (biasanya P. Yono membelikan saya 2 potong ayam goreng dan biasanya saya merasa menyesal sehabis ludes memakannya. Mau tahu alasannya? Diet ku gagal maning……………gagal maning!!!!!). ‘Iya Mba……………’ jawab Mas Arif.
Seperti biasa, mendekati jam 12 konsentrasi tambah buyar (sebenernya sejak mulai jam 8 konsentrasi sudah buyar, hehehehe). Lirik jam terus. Mulai dari jam di pojok kanan bawah monitor, ampe jam dinding. Semuanya dilihat (mana jarum jam yang lebih dulu menunjuk angka 12). Cihuyyyyyyyyyy penantian saya tidak sia-sia, persis jam 12!!! Ok deh it’s time for makan…….makan…….makan…………makan…………… Kali ini saya ga pergi ke dapur, karena sengaja Mas Arif naruh makan siang saya di meeting room yang ber AC (sekali-sekali boleh dong serasa makan di restoran ber AC). Sudah tak sabar lagi euyyyy, satu……dua……tiga……. Yup lapis pertama ayam goreng, wuih enak nih hehehehe………..lapis kedua apaan yah? (inget kalau saya pesen 2 lauk yang berbeda kan?) satu……dua……tiga……. Lho koq?………….(coba tebak!!! Ayam opor!!!!!) hiks….hiks….hiks……. Mama! P. Yono beliin 2 lauk yang berbeda tapi ayam semua, satu ayam goreng satu lagi ayam oporrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. Apa bedanya coba? Beda di bumbu doang!
BeTe abisssssssssssss :((
Based from my previous experience, saya bertekad untuk memberi instruksi pesanan sejelas-jelasnya kalau perlu saya sebutin semua apa yang saya mau makan. Saya sudah memutuskan, hari ini saya kepengin sekali makan telur dadar. Gara-gara semalem, temen kos saya masak mie goreng plus telur dadar, koq keliatannya enak yah. Akhirnya kebawa ngimpi deh :) Alright, dengan full tekad baja saya mau makan telur dadar!!! Hmmmmm…………….P. Yono masuk ke kantor sambil bawa tentengan tas plastik hitam, hehehehe itu pasti telur dadar saya, seneng rasanya membayangkan nanti saya bisa makan telur dadar. Ups, udah jam 12, masa telur dadar mau dianggurin aja? Ga mungkin kannnnnnnnnnnnn…………………Seperti sebelumnya, makan di meeting room sendirian, koq ga ada tanda-tanda telur dadar yah di dalam kotak, koq adanya ayam lagi……..weleh jangan-jangan ketuker lagi ama makan siang Philip (bule sekantor yang lidahnya internasional banget!!). Sebelum terlambat, balik lagi saya ke dapur. ‘Mas Arif, maem saya yang mana? Salah ya?’ Mas Arif bilang ‘ga koq mba……itu bener punya mba….’ . ‘masa sih?’ pikir saya. Rasa penasaran saya masih tetep tinggi (ini semua gara-gara efek telur dadar idaman) tengok kanan kiri, saya intip kotak makan Philip ‘eh, bener itu punya Phil’ seru saya. ‘Tuh kan…………..mba ngeyel sih!!’ seloroh Mas Arif. Yeah, apa mau dikata, hari ini ayam lagi makan siang saya.
Sampai waktunya pulang kerja, setelah berkemas sana sini, sok sibuk membereskan meja yang memang sengaja diberantakin. P. Yono sudah menanti di depan pintu (ceileeeeeee suit…….suit………) ‘saya balik Mas Arif!!!’ teriak saya . Di dalam mobil, sambil leyeh-leyeh (istilah orang Jawa untuk bilang nyantai) dengerin stasiun radio lokal, iseng-iseng saya ngomong ‘Pak, saya tadi siang nitip tolong beliin telur dadar ya? koq dapetnya ayam goreng ya……salah kotak kali ye……’ P. Yono bilang ‘ga, ga ada telur dadar adanya telur ceplok makanya ga saya beliin!’ oooooooo gitu tho alasannya, masuk akal memang. Tapi yang jadi pertanyaan penasaran saya ‘Pak, kenapa tadi ga pilih telur ceplok aja? Kan sama-sama telur tuh! Kenapa malah pilih ayam goreng?’ Edan, diluar dugaan P. Yono bilang sambil ngrokok ‘Lah, kamu tuh piye tho! seharusnya ngerasa seneng & beruntung, saya beliin kamu ibunya telur, kan lebih sip dibanding makan anaknya!!!’
Sumpah, saya bener-bener ga nyangka jawabannya……………………………………….. HAHAHAHAHAHA !!!!!!!!!!!!! Sebenernya duluan mana ya telur ama ayam? HAHAHAHAHAHA !!!!!!!!!!!!!
Di balik kejadian konyol itu semua, saya bener-bener ga menyangka kalau saya dikelilingi orang-orang hebat dan baik di kantor saya. Baru-baru saja saya tahu alasannya kenapa P. Yono selalu membelikan saya ayam goreng buat makan siang saya. Dulu P. Yono pernah bertanya apa saja yang saya suka untuk makan siang saya. Saya kembali teringat waktu itu saya menjawab ‘apa saja asal bukan kerang, tiram, sawi putih, sayur rebung, kepiting (ga mungkin kan saya makan kepiting yang merepotkan itu di kantor tapi selepas pulang kerja saya suka kepiting), masakan yang terlampau manis, pete, jengkol, bebek, lele, daging kambing, tahu goreng yang ga ada rasanya, dan masih banyak lagi.
Dan hebatnya, P. Yono bisa mengingat itu semua padahal saya sendiri sampai lupa saya ga suka makan apa aja. Bahkan keluarga dan orang-orang terdekat saya pun ga bakalan ingat itu semua.
Oh my God, begitu pentingnya kemauan saya sampai P. Yono mengingatnya.
Matur nuwun Pak!!!
Note : apa seharusnya judul yang aku buat tentang P. Yono?
--- Ayo, kerja lagi ---
Tuesday, October 12, 2004
Seorang teman yang teramat dekat dengan saya akhir-akhir ini mengatakan kalau saya seorang pembohong (entah dia mengumpulkan bukti dan fakta darimana sampai dia memvonis saya seperti itu), sempat shocked saya mendengarnya. Kaget karena keterusterangan dia atau kaget karena itu benar……………. Hehehe.
Dia bilang, di saat saya bohong maka akan menyusul kebohongan-kebohongan lainnya. Dia 100% benar!!! Toh saya juga pernah mendengar dan membaca di banyak artikel entah majalah, Koran, novel, hal yang sama tentang ihwal yang bersangkut pautan dengan kebohongan. Mulai dari proses berbohong itu sendiri, ketenangan yang diperlukan saat berbohong, kendali diri (biar ga ketahuan), siapa yang akan dibohongi (bukan bermaksud seperti pemilihan Cantik Indonesia, dalam berbohong kita tidak perlu lah sampai mengumpulkan, menyeleksi kemudian mengeliminasi siapa saja yang bisa dan harus kena bohongan kita) :P
Never mind, mari kita simpan judge dari teman filsuf saya terlebih dahulu. Saya mau sedikit merenungkan sebab akibat kenapa saya eh kita :p berbohong. Kita cenderung mulai berbohong disaat kita merasa tidak aman dan harus memprotect diri kita sedemikian rupa, disaat kita merasa berada dalam posisi yang tidak seharusnya maka siaat itulah kita mulai berbohong. Kemarin saya pikir itu wajar toh untuk melindungi diri, tapi setelah semalaman saya berpikir, ternyata berbohong itu ga wajar apapun alasannya (entah itu bohong putih atau bohong hitam, entah itu bohong sedikit atau banyak, pokoknya bohong!!) Cuman saya ga munafik, saya masih membutuhkan untuk berbohong, stop jangan protes dulu……………alasan saya masih membutuhkan (walaupun saat ini berusaha menurunkan kadarnya) karena saya ingin melindungi orang-orang yang saya sayang saat ini, orang-orang yang dulu saya sayang dan sampai sekarang masih saya sayang (nah lho bingung kan?), buat jaga perasaan orang-orang yang mulai saya sayang :( terus banyak lagi alasannya………
Hanya yang perlu dicermati, sekali kita berbohong akan satu hal, selanjutnya kebohongan itu akan bersambung ga ada putus-putusnya (persis kaya bisnis MLM) nyambung teyusssssssssssss susah banget untuk dihentikan pada titik-titik tertentu. Sudah tau kan alasannya? Sepele sih……cuman buat ngepas-ngepasin keadaan. Biar jawaban yang diterima semua pihak yang ada korelasi dengan kita sama. Titik. Itu saja sebenarnya kenapa teman filsuf saya berkata seperti itu.
Kembali ke teman saya yang mirip seorang filsuf ini (mirip sastrawan juga sih), dalam hati saya juga bertanya-tanya dan agak-agak membela diri sendiri, apa iya cuman saya yang berbohong, bukankah dia sendiri juga pasti pernah berbohong, bukankah semua orang pernah dan sedang berbohong? Atau yang lebih ekstrim lagi, bukankan memang kehidupan yang kita jalani ini penuh dengan kebohongan? Makanya sampai ada lagu yang lirik nya :
Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah………….
Lah sekarang, cerita mudah berubah kenapa coba alasannya selain memang takdir Tuhan? Ya karena manusia seperti saya, anda, keluarga, rekan kerja, bos anda dll yang terkadang berbohong untuk mencari dan mempertahankan posisi (bukan hanya jabatan).
Sudahlah………..bohong kalau saya bilang saya ga pernah berbohong tapi lebih berbohong lagi saya kalau saya bilang saya ga manis :D hehehe………..(ga ada hubungannya yah? Gpp lah dicoba dihubung-hubungin, ok?)
Have a nice day!!!
Dia bilang, di saat saya bohong maka akan menyusul kebohongan-kebohongan lainnya. Dia 100% benar!!! Toh saya juga pernah mendengar dan membaca di banyak artikel entah majalah, Koran, novel, hal yang sama tentang ihwal yang bersangkut pautan dengan kebohongan. Mulai dari proses berbohong itu sendiri, ketenangan yang diperlukan saat berbohong, kendali diri (biar ga ketahuan), siapa yang akan dibohongi (bukan bermaksud seperti pemilihan Cantik Indonesia, dalam berbohong kita tidak perlu lah sampai mengumpulkan, menyeleksi kemudian mengeliminasi siapa saja yang bisa dan harus kena bohongan kita) :P
Never mind, mari kita simpan judge dari teman filsuf saya terlebih dahulu. Saya mau sedikit merenungkan sebab akibat kenapa saya eh kita :p berbohong. Kita cenderung mulai berbohong disaat kita merasa tidak aman dan harus memprotect diri kita sedemikian rupa, disaat kita merasa berada dalam posisi yang tidak seharusnya maka siaat itulah kita mulai berbohong. Kemarin saya pikir itu wajar toh untuk melindungi diri, tapi setelah semalaman saya berpikir, ternyata berbohong itu ga wajar apapun alasannya (entah itu bohong putih atau bohong hitam, entah itu bohong sedikit atau banyak, pokoknya bohong!!) Cuman saya ga munafik, saya masih membutuhkan untuk berbohong, stop jangan protes dulu……………alasan saya masih membutuhkan (walaupun saat ini berusaha menurunkan kadarnya) karena saya ingin melindungi orang-orang yang saya sayang saat ini, orang-orang yang dulu saya sayang dan sampai sekarang masih saya sayang (nah lho bingung kan?), buat jaga perasaan orang-orang yang mulai saya sayang :( terus banyak lagi alasannya………
Hanya yang perlu dicermati, sekali kita berbohong akan satu hal, selanjutnya kebohongan itu akan bersambung ga ada putus-putusnya (persis kaya bisnis MLM) nyambung teyusssssssssssss susah banget untuk dihentikan pada titik-titik tertentu. Sudah tau kan alasannya? Sepele sih……cuman buat ngepas-ngepasin keadaan. Biar jawaban yang diterima semua pihak yang ada korelasi dengan kita sama. Titik. Itu saja sebenarnya kenapa teman filsuf saya berkata seperti itu.
Kembali ke teman saya yang mirip seorang filsuf ini (mirip sastrawan juga sih), dalam hati saya juga bertanya-tanya dan agak-agak membela diri sendiri, apa iya cuman saya yang berbohong, bukankah dia sendiri juga pasti pernah berbohong, bukankah semua orang pernah dan sedang berbohong? Atau yang lebih ekstrim lagi, bukankan memang kehidupan yang kita jalani ini penuh dengan kebohongan? Makanya sampai ada lagu yang lirik nya :
Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah………….
Lah sekarang, cerita mudah berubah kenapa coba alasannya selain memang takdir Tuhan? Ya karena manusia seperti saya, anda, keluarga, rekan kerja, bos anda dll yang terkadang berbohong untuk mencari dan mempertahankan posisi (bukan hanya jabatan).
Sudahlah………..bohong kalau saya bilang saya ga pernah berbohong tapi lebih berbohong lagi saya kalau saya bilang saya ga manis :D hehehe………..(ga ada hubungannya yah? Gpp lah dicoba dihubung-hubungin, ok?)
Have a nice day!!!
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, seperti roda yang berputar rutinitas kita terus berjalan. Cenderung statis malah kalau boleh dikata. Seperti saya (sebagian dari anda juga sepertinya), tiap pagi hal-hal yang saya lakukan hampir sama. Jam segini bangun (tidak akan saya katakan saya bangun jam berapa, ketahuan nanti kalau saya pemalas!) jam segini mandi, jam segitu dandan, jam sekian nonton gossip di TV yang katanya makin asyik aja………. Finally dijemput sekitar 6.55 pagi (indikator kalau saya sudah dijemput tapi saya malah masih malas-malasan, driver kantor pasti langsung telepon saya sambil berkata : ‘kowe niat kerjo opo ora?’ alias kalau ditranslate ke bahasa betawi : ‘niat kerja kagak lu?’ :p Nah kalau sudah seperti itu, masa iya saya ga beranjak dari tempat tidur saya yang walaupun bukan merk tertentu (kalau sudah duduk lupa berdiri) tapi tetap saja seperti magnet yang menarik saya untuk kembali bermalas-malasan. Tapi apa mau dikata, saya harus kerja.
Keluar dari kos sembari mematikan lampu-lampu (mentaati anjuran ibu kos untuk menghemat listrik), mengunci pintu sambil menyapa tetangga kanan kiri, muka belakang, towel-towel pipi anak tetangga (Akbar namanya, dan yang pasti tidak towel pipi bapaknya! Bisa digampar ama isterinya ntar, hahahaha………..)
Sampai di mobil (mobil kantor menunggu di depan gang, driver kantor malas masuk karena tiap pagi banyak sekali bocah kecil + ibu nya yang mengadakan semacam perkumpulan alias nongkrong bareng!! Cuma pasti kalau ditanya oleh suami mereka kenapa para ibu-ibu suka berkumpul, pasti mereka akan jawab : yah sekedar untuk mempererat silahturahmi J
Perjalanan ke kantor memakan waktu sekitar 35-40 menit biasanya, tapi pagi ini 50 menit!! Gara-gara truk muat pasir yang jalannya luar biasa santai, hehehehe (karena berat mungkin) antriannya panjang sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii. Mo nyelip agak susah (bukan karena driver kantor kurang ahli, tapi karena motor-motor yang berlawanan arah tidak mau kalah) L Akhirnya setelah lumayan lama menunggu, bisa juga nyalip truk pasir. Lega………..bukan apa-apa, bukannya saya takut telat atau apa, saya cuma males aja. Semakin lama perjalanan berarti semakin lama saya duduk di jok mobil yang berarti pula semakin panas pantat saya duduk tambah lama L
Sepanjang perjalanan (kaya old song aja….) saya bisa lihat landscape Tuhan yang luar biasa. Banyak tanaman, warna hijau dimana-mana. O ya, omong-omong soal hijau, saya jadi ingat teman saya yang tinggal di Jakarta. Dulu waktu saya bercerita tentang perjalanan saya tiap pagi, dia benar-benar 100% iri terhadap saya. Dia iri karena sepanjang perjalanan dia ke kantor ga bisa lihat pemandangan seperti saya. Yang dia lihat tiap pagi macet, macet dan macet. Pohon-pohon sepanjang Sudirman sudah habis ditebang buat melapangkan obsesi Sutiyoso yang ngebet banget pengen niru system busway di Kolombia. Yang jelas-jelas nyata menjulang di depan mata teman saya, gedung-gedung perkantoran yang luar biasa mengkilap (karena trend gedung perkantoran kontemporer dimana semua-semuanya kaca), angkutan umum yang luar biasa lincah walaupun sudah tak layak pakai, mobil-mobil kinclong berkaca gelap dengan AC super dingin. Yah seperti layaknya sebuah kota metropolitan!!! Modern, angkuh (tapi sebagian kumuh) dan instan J
Suatu hari dia pernah berkata kepada saya : ‘aku pengen lho liat hijau-hijau disini (Jakarta red.), jarang banget ga kaya di tempat kamu yah?’ saya jawab : ‘lho bukannya hampir di setiap sudut Jakarta kamu bisa melihatnya? Di mal, supermaket, grosir, perasaan ada.’ Teman saya bengong, dia bilang ga mungkin lah, disini pohon hijau dah bisa dihitung dengan jari alias sedikit!!
Saya jawab dengan polosnya ‘coba kamu pergi ke carefour di bagian buah dan sayur…………kan hijau-hijau tu, banyak lagi J’ Teman saya takjub mungkin mendengar jawaban saya, setelah ketakjubannya mereda, dia bilang ‘apa iya aku seharian berdiri, nongkrong sambil melototin sayuran hijau hanya untuk memuaskan keinginan buat melihat pemandangan hijau?’ hehehehe kali ini saya yang tertawa lebar mendengar jawabannya.
So, begitu nyata perbedaan antara kota besar dan kota kecil yang kebetulan saya tinggali sekarang. Teman saya boleh iri terhadap saya, tapi sejujurnya ada sedikit rasa iri saya terhadap dia. Keirian saya mungkin hanya keirian sementara saja, keirian saya masih keirian khas wanita. Hanya masalah trend mode, belanja dan tempat belanja tentu saja, tempat hang out yang cozy, tempat makan yang enak (btw, saya kangen sekali makan bakmie GM, pangsit gorengnya crispy L )
Sudah sampai kantor, saya ga menyangka lamunan saya pagi ini lumayan panjang. Seperti flashback. Mulai kerja lagi seperti biasa, dan esok hari saya akan mengulanginya mirip dengan hari ini tapi tentu saja dengan lamunan yang berbeda. Lamunan jikalau saya bekerja di Jakarta dan teman saya bekerja di sini?
Nobody knows what will happen tomorrow.
--- Selamat Bekerja untuk anda dan orang-orang terdekat anda ---
Keluar dari kos sembari mematikan lampu-lampu (mentaati anjuran ibu kos untuk menghemat listrik), mengunci pintu sambil menyapa tetangga kanan kiri, muka belakang, towel-towel pipi anak tetangga (Akbar namanya, dan yang pasti tidak towel pipi bapaknya! Bisa digampar ama isterinya ntar, hahahaha………..)
Sampai di mobil (mobil kantor menunggu di depan gang, driver kantor malas masuk karena tiap pagi banyak sekali bocah kecil + ibu nya yang mengadakan semacam perkumpulan alias nongkrong bareng!! Cuma pasti kalau ditanya oleh suami mereka kenapa para ibu-ibu suka berkumpul, pasti mereka akan jawab : yah sekedar untuk mempererat silahturahmi J
Perjalanan ke kantor memakan waktu sekitar 35-40 menit biasanya, tapi pagi ini 50 menit!! Gara-gara truk muat pasir yang jalannya luar biasa santai, hehehehe (karena berat mungkin) antriannya panjang sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii. Mo nyelip agak susah (bukan karena driver kantor kurang ahli, tapi karena motor-motor yang berlawanan arah tidak mau kalah) L Akhirnya setelah lumayan lama menunggu, bisa juga nyalip truk pasir. Lega………..bukan apa-apa, bukannya saya takut telat atau apa, saya cuma males aja. Semakin lama perjalanan berarti semakin lama saya duduk di jok mobil yang berarti pula semakin panas pantat saya duduk tambah lama L
Sepanjang perjalanan (kaya old song aja….) saya bisa lihat landscape Tuhan yang luar biasa. Banyak tanaman, warna hijau dimana-mana. O ya, omong-omong soal hijau, saya jadi ingat teman saya yang tinggal di Jakarta. Dulu waktu saya bercerita tentang perjalanan saya tiap pagi, dia benar-benar 100% iri terhadap saya. Dia iri karena sepanjang perjalanan dia ke kantor ga bisa lihat pemandangan seperti saya. Yang dia lihat tiap pagi macet, macet dan macet. Pohon-pohon sepanjang Sudirman sudah habis ditebang buat melapangkan obsesi Sutiyoso yang ngebet banget pengen niru system busway di Kolombia. Yang jelas-jelas nyata menjulang di depan mata teman saya, gedung-gedung perkantoran yang luar biasa mengkilap (karena trend gedung perkantoran kontemporer dimana semua-semuanya kaca), angkutan umum yang luar biasa lincah walaupun sudah tak layak pakai, mobil-mobil kinclong berkaca gelap dengan AC super dingin. Yah seperti layaknya sebuah kota metropolitan!!! Modern, angkuh (tapi sebagian kumuh) dan instan J
Suatu hari dia pernah berkata kepada saya : ‘aku pengen lho liat hijau-hijau disini (Jakarta red.), jarang banget ga kaya di tempat kamu yah?’ saya jawab : ‘lho bukannya hampir di setiap sudut Jakarta kamu bisa melihatnya? Di mal, supermaket, grosir, perasaan ada.’ Teman saya bengong, dia bilang ga mungkin lah, disini pohon hijau dah bisa dihitung dengan jari alias sedikit!!
Saya jawab dengan polosnya ‘coba kamu pergi ke carefour di bagian buah dan sayur…………kan hijau-hijau tu, banyak lagi J’ Teman saya takjub mungkin mendengar jawaban saya, setelah ketakjubannya mereda, dia bilang ‘apa iya aku seharian berdiri, nongkrong sambil melototin sayuran hijau hanya untuk memuaskan keinginan buat melihat pemandangan hijau?’ hehehehe kali ini saya yang tertawa lebar mendengar jawabannya.
So, begitu nyata perbedaan antara kota besar dan kota kecil yang kebetulan saya tinggali sekarang. Teman saya boleh iri terhadap saya, tapi sejujurnya ada sedikit rasa iri saya terhadap dia. Keirian saya mungkin hanya keirian sementara saja, keirian saya masih keirian khas wanita. Hanya masalah trend mode, belanja dan tempat belanja tentu saja, tempat hang out yang cozy, tempat makan yang enak (btw, saya kangen sekali makan bakmie GM, pangsit gorengnya crispy L )
Sudah sampai kantor, saya ga menyangka lamunan saya pagi ini lumayan panjang. Seperti flashback. Mulai kerja lagi seperti biasa, dan esok hari saya akan mengulanginya mirip dengan hari ini tapi tentu saja dengan lamunan yang berbeda. Lamunan jikalau saya bekerja di Jakarta dan teman saya bekerja di sini?
Nobody knows what will happen tomorrow.
--- Selamat Bekerja untuk anda dan orang-orang terdekat anda ---
Monday, October 11, 2004
Jangan tanya kenapa judul yang saya buat begitu kontroversial bahkan menyebalkan buat anda. Bukan berarti saya membenci si cinta :p atau bukan berarti hati saya tidak punya cinta, saya menghargai dan sempat mengagungkan cinta, hanya saja begitu banyak terjadi peristiwa yang entah kebetulan disengaja maupun tidak, semakin mengukuhkan arti cinta yang menyebalkan.

